Tauhid secara etimologis yaitu mengesakan tuhan, meyakini bahwa
Allah itu esa, dan mengetahui dengan sebenarnya bahwa sesuatu itu satu. Tauhid
yaitu percaya tentang wujud Tuhan Yang Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya,
baik Zat, sifat maupun perbuatan-Nya; Yang mengutus utusan-utusan untuk memberi
petunjuk kepada alam dan umat manusia kepada jalan kebaikan; Yang meminta
pertanggung jawaban seseorang diakhirat dan memberikan balasan kepadanya atas
apa yang telah diperbuatnya didunia ini, baik atau buruk.
Tauhid secara terminologi yaitu suatu ilmu yang menyelidiki dan
membahas soal-soal yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan bagi sekalian
utusan-utusannya. Mengupas dalil-dalil yang mungkin, yang cocok dengan akal
fikiran, sebagai alat untuk membuktikan adanya zat yang mewujudkan lebih dari
itu. Ilmu Tauhid mengupas dalil-dalil Sam’iyyat,yaitu dalil-dalil yang diambil
dari Quran dan Hadis untuk mempercayai segala sesuatu dengan yakin.
Tauhid itu terbagi dua; pertama, tauhid dalam
pengenalan (ma’rifah) dan penetapan (itsbaat), yakni bertauhid
dalam ububiyyah dan nama-nama (asma’) dan sifat (shifaat). Kedua,
tauhid dalam tujuan (Ath-Thalab) dan kehendak (Al Qasd),
yakni bertauhid dalam keilahiyyahan-Nya dan ibadah kepada-Nya. Yang pertama
maksudnya adalah menetapkan hakikat zat Ar-Rabb Ta’ala, sifat-sifat-Nya,
perbuatan-perbuatan-Nya, asma’ (nama-nama)-Nya, Dia berbicara melalui
kitab-kitab-Nya dan Dia berbicara kepada siapa saja dari hamba yang
dikehendaki-Nya. Demikian pula, menetapkan keumuman ketetapan (Qadha’),
takdir dan hikmah-Nya. Dalam hal ini Al-Qur’an telah berbicara tentang jenis
ini dengan jelas, sebagaimana pada awal surah Ali-Imran, awal surah Al-Hadiid,
surah Al-Ikhlash seluruhnya dan lain-lain.
Yang kedua adalah; makna yang dikandung dalam surah Al-Kaafirun,
dan firman-Nya, “ Katakanlah hai Ahli Kitab! Marilah (berpegang) kepada
suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu;
bahwa tidak kita sembah kecuali Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah
kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri
(kepada Allah).’ “(Qs. Ali-Imran(3):64), juga awal surah As-Sajdah dan
akhirnya, awal surah Al Mu’min; pertengahannya dan akhirnya, awal surah Al
A’raf dan akhirnya, sebagian besar surat Al An’am dan sebagian besar
surat-surat dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an mengandung
kedua jenis tauhid ini, mengukuhkan dan menyerupa kepadanya.
Berita (khabar) dalam
Al-Qur’an ada yang berupa penjelasan tentang Allah, asma-Nya, sifat-sifat-Nya,
perbuatan-perbuatan-Nya, dan firman-firman-Nya. Inilah yang dinamakan dengan
tauhid ilmi khabari. Ada yang berupa da’wah (ajakan) agar hanya beribadah
kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan berlepas diri dari semua
sesembahan selain-Nya; maka yang dinamakan dengan tauhid Iraadi Thalabi (kehendak dan tujuan). Ada juga yang berupa perintah
(amr), larangan (nahy) dan kewajiban taat kepada-Nya, baik perintah-Nya maupun
larangan-Nya. Inilah yang dinamakan dengan hak-hak tauhid dan sarana-sarana
menuju kesempurnaannya. Adapula yang berupa khabar
(berita) tentang ahli tauhid dan apa
yang Allah perbuat kepada mereka di akhirat; inilah yang dinamakan dengan
balasan bertauhid kepada-Nya. Adalagi yang berupa khabar (berit) tentang ahli
syirih dan apa yang Allah perbuat terhadp mereka di dunia berupa siksaan
dan apa yang akan menimpa mereka nanti di akhirat berupa adzab; inilah balasan
bagi orang yang keluar dari hukum tauhid. Jadi, Al-Qur’an secara keseluruhannya
membicarakan masalah tauhid hak-haknya serta balasannya; mengenai syirik, ahi
syirik, serta balasan bagi mereka....Demikian penjelasan Ibnu Al Qayyim
Syaikhul Islam berkata. “Tauhid yang dibawa oleh para Rasul
mengandung penetapan keilahiyahan-Nya semata dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan
yang berhak disembah selain Allah. Tiada yang disembah kecuali Dia, tidak ada
tempat bertawakkal kecuali kepada-Nya, tidak ada tempat berloyal kepada
siapapun kecuali karena-Nya, tidaklah memusuhi siapapun kecuali dalam rangka
mencari keridhaan-Nya dan tidak beramal kecuali karena-Nya. Hal itu semua
mencakup penetapan apa yang telah ditetapkan oleh-Nya terhadap diri-Nya berupa asma’ dan sifat-sifat-Nya. Allah
berfirman “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang
Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Qs.Al-Baqarah(2):163) firman-Nya, “Janganlah kamu menyembah dua tuhan.
Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepadaku saja kamu
takut.”(Qs. An-Nahl(16):51) Firman-Nya , “Dn barang siapa menyembah Tuhan yang lain di samping, padahal tidak ada
suatu dalilpun bagi-Nya tentang itu,maka sesungguhnya perhitungannya di sisi
Tuhannya, sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak beruntung. “ (QS.
Al-Mu’minun (23):117 ) Juga firman-Nya, “Dan
tanyakannlah pada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, adakah
Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?”
(QS Az-Zukhruf (43):45).
Dalam ayat tersebut Allah memberitakan tentang nabi-nabi, bahwa
mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata Yang tiada suku
bagi-Nya. Allah berfirman, ”Sesungguhnya
telah ada suri teladan bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama
dia;ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri
dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu
dan telah nyata antara kami dan kamu permsuhan dan kebencian buah
selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah.”(QS Al-Mumtahanah (60): 4
). Juga firman-Nya tentang orang-orang musyrikin, “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka,
Laailaahaillallah ( Tiada tuhan yang disembah melainkan Allah ); mereka
menyombongkan diri. Dan bereka berkata ‘Apakah sesungguhnya kami haris
meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’”(QS
Ash-Shaaffaat (37): 35-36 ). Ayat seperti yang disebutkan di atas banyak sekali
jumlahnya dalam Al-Qur’an.
Jadi, yang dimaksud dengan tauhid bukanlah semata-mata tauhid rububiyyah;yakni keyakinan bahwa Allah
semata yang menciptakan alam semesta sebagaimana yang dikira oleh ahli kalam
dan tasawwuf. Mereka mengira, bahwa bila mereka telah menetapkan hal itu
berdasarkan dalil, maka berarti mereka telah menetapkan klimaks tauhid itu.
Jika mereka dalam hal ini telah melalui proses syuhud dan fana,
maka berarti mereka telah fana (lebur) dalam puncak tauhid. Karena sesungguhnya
bila seseorang telah mengakui sifat-sifat yang berhak bagi Rabb Ta’ala dan mensucikan-Nya dari apa yang Dia Maha Suci dari
semua itu serta mengakui bahwa hanya Dia semata pencipta segala sesuatu, maka
dia belum dinamakan seorang yang Muwahhid
(mentauhidkan Allah) hingga dia bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang berhak
disembah selain Allah semata. Maka dia mengakui bahwa hanya Allah Tuhan Yang
berhak disembah dan komitmen untuk selalu beribadah kepada-Nya semata Yang
tiada sekutu bagi-Nya.
Mau nanya kk syapa sumber dari materi ini. Trimakasih
BalasHapusDalil tauhid secara etimologi dan terminologi
BalasHapus