Senin, 24 Oktober 2016

Apa itu emosi??

              Emosi, pada prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang berbeda. Oleh karena emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap berbagai situasi nyata, maka sebenarnya tidak ada ‘emosi baik’ atau ‘emosi buruk’. Berbagai buku psikologi yang membahas masalah emosi, seperti misalnya yang ditulis Atkinson (1983) membedakan emosi hanya atas dua jenis, yakni ‘emosi yang menyenangkan’ dan ‘emosi yang tidak menyenangkan’.

              Emosi merupakan suatu aspek psikis yang berkaitan dengan perasaan dan merasakan. Misalnya, merasa senang, sedih, kesal, marah, tegang, dan lain sebagainya. Emosi pada diri seseorang erat kaitanya dengan suatu keadaan psikis tertentu yang distimulasi, baik oleh faktor internal (dari dalam) maupun faktor eksternal (dari luar).
              Ditinjau dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin “movere” yang berarti menggerakkan atau bergerak. Sedangkan awalan “e” berarti bergerak menjauh. Arti ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Misalnya, seseorang yang takut akan melakukan sesuatu untuk melindungi dirinya, dengan cara lari terbirit-birit. Ketika merasa malu, ia akan menutup muka sebagai ekspresi rasa tak ingin dilihat orang lain. Sementara itu, saat jijik, muncul rasa mual, lalu menjauh dari sumber yang menjijikkan tersebut. Adapun emosi gembira mendorong seseorang untuk tertawa ataupun tersenyum.
              Emosi bisa didefinisikan sebagai suatu keadaan gejolak penyesuaian diri yang berasal dari dalam tubuh, yang melibatkan hampir keseluruhan dari diri individu.
Menurut Sarlito Wirawan Sartono, emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai “warna afektif”. Warna afektif ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami oleh seseorang saat menghadapi ataupun menghayati situasi tertentu.
              Emosi juga merupakan gejala psikofisiologis yang menimbulkan efek terhadap persepsi, sikap, dan tingkah laku yang mengejawantah dalam bentuk ekspresi tertentu. Emosi dirasakan secara psikofisik karena terkait langsung dengan jiwa dan fisik. Ketika emosi bahagia meledak-ledak, maka secara psikis, hal ini akan memberikan kepuasan. Akan tetapi, secara fisiologis, hal itu akan membuat jantung berdebar-debar atau langkah kaki terasa ringan, serta tak sadar saat berteriak puas kegirangan.
              Namun, hal-hal yang disebutkan itu tidak spesifik terjadi pada semua orang dalam seluruh kesempatan. Terkadang, ada seseorang yang bahagia, tetapi justru meneteskan air mata, atau kesedihan yang sama tidak menghadirkan kesedihan yang serupa.
              Gejolak emosi dapat bervariasi; dari tingkat yang paling menyenangkan hingga tingkat yang paling tidak menyenangkan. Skala emosi yang paling menyenangkan terwujud dalam rasa kegembiraan yang meluap-luap. Sedangkan skala emosi yang paling tidak menyenangkan adalah kemarahan atau rasa sedih yang begitu mendalam.
              Pada hakikatnya, kegembiraan, kemarahan, maupun kesedihan dapat berlangsung dalam jangka waktu yang sebentar, dan dapat pula berlangsung dalam jangka waktu yang lama. Meskipun demikian, gejolak emosi yang berupa kesedihan ataupun kekecewaan biasanya cenderung berlangsung lama.
              Gejolak emosi, baik itu kegembiraan, kemarahan, maupun kesedihan, dapat berpengaruh terhadap kondisi kefaalan tubuh, sehingga mempengaruhi keseimbangan psikofisiologis. Karena adanya kesatuan antara aspek psikis dan fisik, maka kegembiraan atau kesedihan merupakan sesuatu yang bersifat psikis. Namun, keduanya tetap akan mempengaruhi aspek-aspek fisiologis. Misalnya, kegembiraan yang berlebihan akan menyebabkan perubahan fisiologis, seperti jantung berdebar kencang, ekskresi air mata, atau kekejangan otot dalam batas-batas tertentu.
              Sebaliknya, jika terjadi sesuatu peristiwa negatif intens, misalnya yang disebabkan oleh kemarahan, kesedihan, maupun kekecewaan yang mendalam, tentu juga dapat mempengaruhi keseimbangan psikofisiologis. Gejala fisiologis bisa terjadi dengan kejadian yang beragam, contohnya kekejangan otot-otot, denyut nadi meninggi, berkeringat, dan lain sebagainya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa ternyata ada kesatuan yang tak terpisahkan antara aspek psikis dan organis-fisiologis.
              Dalam psikopatologi, dikenal sebuah istilah somatisasi. Somatisasi mengacu pada munculnya gejala somatik atau organik. Misalnya, radang di lambung yang disebabkan oleh stres akibat terjadinya perubahan gejolak emosi yang mendalam.
              Dengan demikian, perubahan gejolak emosi yang berlarut-larut dapat mengakibatkan reaksi stres yang tidak teratasi, yang selanjunya mengakibatkan adanya perubahan-perubahan organis-fisiologis. Untuk memahami dan mengatasi somatisasi, perlu dilakukan pendekatan terpadu antara bidang psikologi dan kedokteran.
              Selanjutnya, stres atau ketegangan emosi juga dapat mengakibatkan gangguan-gangguan fisiologis yang merupakan gangguan semu atau pseudo, yang sesungguhnya tidak terdapat gangguan organisfisiologis apa pun. Misalnya, reaksi sakit kepala yang dialami akibat stres memang disebabkan oleh adanya penegangan otot-otot, namun secara organis tidak terjadi kelainan apa pun.
                        Maka, emosi yang negatif dalam kehidupan sehari-hari mengacu pada ketegangan yang terjadi pada individu akibat tingkat kemarahan yang tinggi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar