Emosi,
pada prinsipnya menggambarkan perasaan manusia menghadapi berbagai situasi yang
berbeda. Oleh karena emosi merupakan reaksi manusiawi terhadap berbagai situasi
nyata, maka sebenarnya tidak ada ‘emosi baik’ atau ‘emosi buruk’. Berbagai buku
psikologi yang membahas masalah emosi, seperti misalnya yang ditulis Atkinson
(1983) membedakan emosi hanya atas dua jenis, yakni ‘emosi yang menyenangkan’
dan ‘emosi yang tidak menyenangkan’.
Emosi
merupakan suatu aspek psikis yang berkaitan dengan perasaan dan merasakan.
Misalnya, merasa senang, sedih, kesal, marah, tegang, dan lain sebagainya.
Emosi pada diri seseorang erat kaitanya dengan suatu keadaan psikis tertentu
yang distimulasi, baik oleh faktor internal (dari dalam) maupun faktor
eksternal (dari luar).
Ditinjau
dari segi etimologi, emosi berasal dari akar kata bahasa Latin “movere” yang berarti menggerakkan atau
bergerak. Sedangkan awalan “e” berarti
bergerak menjauh. Arti ini menyiratkan kesan bahwa kecenderungan bertindak
merupakan hal mutlak dalam emosi. Misalnya, seseorang yang takut akan melakukan
sesuatu untuk melindungi dirinya, dengan cara lari terbirit-birit. Ketika
merasa malu, ia akan menutup muka sebagai ekspresi rasa tak ingin dilihat orang
lain. Sementara itu, saat jijik, muncul rasa mual, lalu menjauh dari sumber
yang menjijikkan tersebut. Adapun emosi gembira mendorong seseorang untuk
tertawa ataupun tersenyum.
Emosi
bisa didefinisikan sebagai suatu keadaan gejolak penyesuaian diri yang berasal
dari dalam tubuh, yang melibatkan hampir keseluruhan dari diri individu.
Menurut Sarlito Wirawan Sartono, emosi merupakan
setiap keadaan pada diri seseorang yang disertai “warna afektif”. Warna afektif
ini adalah perasaan-perasaan tertentu yang dialami oleh seseorang saat
menghadapi ataupun menghayati situasi tertentu.
Emosi
juga merupakan gejala psikofisiologis yang menimbulkan efek terhadap persepsi,
sikap, dan tingkah laku yang mengejawantah dalam bentuk ekspresi tertentu.
Emosi dirasakan secara psikofisik karena terkait langsung dengan jiwa dan
fisik. Ketika emosi bahagia meledak-ledak, maka secara psikis, hal ini akan
memberikan kepuasan. Akan tetapi, secara fisiologis, hal itu akan membuat
jantung berdebar-debar atau langkah kaki terasa ringan, serta tak sadar saat
berteriak puas kegirangan.
Namun,
hal-hal yang disebutkan itu tidak spesifik terjadi pada semua orang dalam
seluruh kesempatan. Terkadang, ada seseorang yang bahagia, tetapi justru
meneteskan air mata, atau kesedihan yang sama tidak menghadirkan kesedihan yang
serupa.
Gejolak
emosi dapat bervariasi; dari tingkat yang paling menyenangkan hingga tingkat
yang paling tidak menyenangkan. Skala emosi yang paling menyenangkan terwujud
dalam rasa kegembiraan yang meluap-luap. Sedangkan skala emosi yang paling
tidak menyenangkan adalah kemarahan atau rasa sedih yang begitu mendalam.
Pada
hakikatnya, kegembiraan, kemarahan, maupun kesedihan dapat berlangsung dalam
jangka waktu yang sebentar, dan dapat pula berlangsung dalam jangka waktu yang
lama. Meskipun demikian, gejolak emosi yang berupa kesedihan ataupun kekecewaan
biasanya cenderung berlangsung lama.
Gejolak
emosi, baik itu kegembiraan, kemarahan, maupun kesedihan, dapat berpengaruh
terhadap kondisi kefaalan tubuh, sehingga mempengaruhi keseimbangan
psikofisiologis. Karena adanya kesatuan antara aspek psikis dan fisik, maka
kegembiraan atau kesedihan merupakan sesuatu yang bersifat psikis. Namun,
keduanya tetap akan mempengaruhi aspek-aspek fisiologis. Misalnya, kegembiraan
yang berlebihan akan menyebabkan perubahan fisiologis, seperti jantung berdebar
kencang, ekskresi air mata, atau kekejangan otot dalam batas-batas tertentu.
Sebaliknya,
jika terjadi sesuatu peristiwa negatif intens, misalnya yang disebabkan oleh
kemarahan, kesedihan, maupun kekecewaan yang mendalam, tentu juga dapat
mempengaruhi keseimbangan psikofisiologis. Gejala fisiologis bisa terjadi
dengan kejadian yang beragam, contohnya kekejangan otot-otot, denyut nadi
meninggi, berkeringat, dan lain sebagainya. Dengan demikian, dapat disimpulkan
bahwa ternyata ada kesatuan yang tak terpisahkan antara aspek psikis dan
organis-fisiologis.
Dalam
psikopatologi, dikenal sebuah istilah somatisasi. Somatisasi mengacu pada
munculnya gejala somatik atau organik. Misalnya, radang di lambung yang
disebabkan oleh stres akibat terjadinya perubahan gejolak emosi yang mendalam.
Dengan
demikian, perubahan gejolak emosi yang berlarut-larut dapat mengakibatkan
reaksi stres yang tidak teratasi, yang selanjunya mengakibatkan adanya
perubahan-perubahan organis-fisiologis. Untuk memahami dan mengatasi
somatisasi, perlu dilakukan pendekatan terpadu antara bidang psikologi dan
kedokteran.
Selanjutnya,
stres atau ketegangan emosi juga dapat mengakibatkan gangguan-gangguan
fisiologis yang merupakan gangguan semu atau pseudo, yang sesungguhnya tidak terdapat gangguan organisfisiologis
apa pun. Misalnya, reaksi sakit kepala yang dialami akibat stres memang
disebabkan oleh adanya penegangan otot-otot, namun secara organis tidak terjadi
kelainan apa pun.
Maka, emosi yang negatif
dalam kehidupan sehari-hari mengacu pada ketegangan yang terjadi pada individu
akibat tingkat kemarahan yang tinggi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar