Jumat, 21 Oktober 2016

Pengertian Tauhid secara Etimologis dan Terminologi

Tauhid secara etimologis yaitu mengesakan tuhan, meyakini bahwa Allah itu esa, dan mengetahui dengan sebenarnya bahwa sesuatu itu satu. Tauhid yaitu percaya tentang wujud Tuhan Yang Esa, Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, baik Zat, sifat maupun perbuatan-Nya; Yang mengutus utusan-utusan untuk memberi petunjuk kepada alam dan umat manusia kepada jalan kebaikan; Yang meminta pertanggung jawaban seseorang diakhirat dan memberikan balasan kepadanya atas apa yang telah diperbuatnya didunia ini, baik atau buruk.


Tauhid secara terminologi yaitu suatu ilmu yang menyelidiki dan membahas soal-soal yang wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah dan bagi sekalian utusan-utusannya. Mengupas dalil-dalil yang mungkin, yang cocok dengan akal fikiran, sebagai alat untuk membuktikan adanya zat yang mewujudkan lebih dari itu. Ilmu Tauhid mengupas dalil-dalil Sam’iyyat,yaitu dalil-dalil yang diambil dari Quran dan Hadis untuk mempercayai segala sesuatu dengan yakin.

Tauhid itu terbagi dua; pertama, tauhid dalam pengenalan (ma’rifah) dan penetapan (itsbaat), yakni bertauhid dalam ububiyyah dan nama-nama (asma’) dan sifat (shifaat). Kedua, tauhid dalam tujuan (Ath-Thalab) dan kehendak (Al Qasd), yakni bertauhid dalam keilahiyyahan-Nya dan ibadah kepada-Nya. Yang pertama maksudnya adalah menetapkan hakikat zat Ar-Rabb Ta’ala, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, asma’ (nama-nama)-Nya, Dia berbicara melalui kitab-kitab-Nya dan Dia berbicara kepada siapa saja dari hamba yang dikehendaki-Nya. Demikian pula, menetapkan keumuman ketetapan (Qadha’), takdir dan hikmah-Nya. Dalam hal ini Al-Qur’an telah berbicara tentang jenis ini dengan jelas, sebagaimana pada awal surah Ali-Imran, awal surah Al-Hadiid, surah Al-Ikhlash seluruhnya dan lain-lain.

Yang kedua adalah; makna yang dikandung dalam surah Al-Kaafirun, dan firman-Nya, “ Katakanlah hai Ahli Kitab! Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu; bahwa tidak kita sembah kecuali Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka, ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).’ “(Qs. Ali-Imran(3):64), juga awal surah As-Sajdah dan akhirnya, awal surah Al Mu’min; pertengahannya dan akhirnya, awal surah Al A’raf dan akhirnya, sebagian besar surat Al An’am dan sebagian besar surat-surat dalam Al-Qur’an. Bahkan, setiap surah dalam Al-Qur’an mengandung kedua jenis tauhid ini, mengukuhkan dan menyerupa kepadanya.

Berita (khabar) dalam Al-Qur’an ada yang berupa penjelasan tentang Allah, asma-Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya, dan firman-firman-Nya. Inilah yang dinamakan dengan tauhid ilmi khabari. Ada yang berupa da’wah (ajakan) agar hanya beribadah kepada-Nya yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan berlepas diri dari semua sesembahan selain-Nya; maka yang dinamakan dengan tauhid Iraadi Thalabi (kehendak dan tujuan). Ada juga yang berupa perintah (amr), larangan (nahy) dan kewajiban taat kepada-Nya, baik perintah-Nya maupun larangan-Nya. Inilah yang dinamakan dengan hak-hak tauhid dan sarana-sarana menuju kesempurnaannya. Adapula yang berupa khabar (berita) tentang ahli tauhid dan apa yang Allah perbuat kepada mereka di akhirat; inilah yang dinamakan dengan balasan bertauhid kepada-Nya. Adalagi yang berupa khabar (berit) tentang ahli syirih dan apa yang Allah perbuat terhadp mereka di dunia berupa siksaan dan apa yang akan menimpa mereka nanti di akhirat berupa adzab; inilah balasan bagi orang yang keluar dari hukum tauhid. Jadi, Al-Qur’an secara keseluruhannya membicarakan masalah tauhid hak-haknya serta balasannya; mengenai syirik, ahi syirik, serta balasan bagi mereka....Demikian penjelasan Ibnu Al Qayyim

Syaikhul Islam berkata. “Tauhid yang dibawa oleh para Rasul mengandung penetapan keilahiyahan-Nya semata dengan bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah. Tiada yang disembah kecuali Dia, tidak ada tempat bertawakkal kecuali kepada-Nya, tidak ada tempat berloyal kepada siapapun kecuali karena-Nya, tidaklah memusuhi siapapun kecuali dalam rangka mencari keridhaan-Nya dan tidak beramal kecuali karena-Nya. Hal itu semua mencakup penetapan apa yang telah ditetapkan oleh-Nya terhadap diri-Nya berupa asma’ dan sifat-sifat-Nya. Allah berfirman “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Qs.Al-Baqarah(2):163) firman-Nya, “Janganlah kamu menyembah dua tuhan. Sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepadaku saja kamu takut.”(Qs. An-Nahl(16):51) Firman-Nya , “Dn barang siapa menyembah Tuhan yang lain di samping, padahal tidak ada suatu dalilpun bagi-Nya tentang itu,maka sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya, sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak beruntung. “ (QS. Al-Mu’minun (23):117 ) Juga firman-Nya, “Dan tanyakannlah pada rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu, adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?” (QS Az-Zukhruf (43):45).

Dalam ayat tersebut Allah memberitakan tentang nabi-nabi, bahwa mereka mengajak manusia untuk beribadah kepada Allah semata Yang tiada suku bagi-Nya. Allah berfirman, ”Sesungguhnya telah ada suri teladan bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia;ketika mereka berkata kepada kaum mereka, “Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu dan telah nyata antara kami dan kamu permsuhan dan kebencian buah selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah.”(QS Al-Mumtahanah (60): 4 ). Juga firman-Nya tentang orang-orang musyrikin, “Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka, Laailaahaillallah ( Tiada tuhan yang disembah melainkan Allah ); mereka menyombongkan diri. Dan bereka berkata ‘Apakah sesungguhnya kami haris meninggalkan sembahan-sembahan kami karena seorang penyair gila?’”(QS Ash-Shaaffaat (37): 35-36 ). Ayat seperti yang disebutkan di atas banyak sekali jumlahnya dalam Al-Qur’an.

Jadi, yang dimaksud dengan tauhid bukanlah semata-mata tauhid rububiyyah;yakni keyakinan bahwa Allah semata yang menciptakan alam semesta sebagaimana yang dikira oleh ahli kalam dan tasawwuf. Mereka mengira, bahwa bila mereka telah menetapkan hal itu berdasarkan dalil, maka berarti mereka telah menetapkan klimaks tauhid itu. Jika mereka dalam hal ini telah melalui proses syuhud  dan  fana, maka berarti mereka telah fana (lebur) dalam puncak tauhid. Karena sesungguhnya bila seseorang telah mengakui sifat-sifat yang berhak bagi Rabb Ta’ala dan mensucikan-Nya dari apa yang Dia Maha Suci dari semua itu serta mengakui bahwa hanya Dia semata pencipta segala sesuatu, maka dia belum dinamakan seorang yang Muwahhid (mentauhidkan Allah) hingga dia bersaksi bahwa Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata. Maka dia mengakui bahwa hanya Allah Tuhan Yang berhak disembah dan komitmen untuk selalu beribadah kepada-Nya semata Yang tiada sekutu bagi-Nya.

2 komentar: