Rabu, 02 November 2016

Biografi Piri Reis – Pembuat Peta Dunia Pertama


Lahir dan Masa Kecil

Hadji Muhiddin Piri Ibn Hadji Mehmed atau yang dikenal Piri Reis merupakan seorang laksamana yang amat gagah berani dianggap sebagai pembuat peta dunia pertama. Dia lahir tahun 1465 di Gallipoli, Turki, yang masih termasuk wilayah pantai. Sejak kecil diketahui selalu senang saat melihat laut dan terbiasa pergi berlayar. Hal ini sedikit banyak mungkin karena pengaruh sang paman, Kemal Reis, yang mana adalah seorang laksamana terkenal pada masanya.


Saat menginjak usia 12 tahun, Reis kecil sudah terlihat piawai sehingga dipercaya sebagai awak kapal sang paman. Meski masih berusia belia, dia dikenal cekatan, pandai, dan juga pemberani. Kurang lebih selama 14 tahun lamanya, bersama sang paman pergi berlayar menantang laut yang ganas dan tidak mudah dikendalikan. Selama masa pelayaran tersebut di selalu mendapat bimbingan dari sang paman. Dari pengalaman itu pula dia mendapat pengalaman perdana navigasi.
Sang paman, Kemal Reis memang memiliki kemampuan dan pengalaman yang hemat sebagai seorang laksamana nan gagah berani. Hingga akhirnya pada tahun 1494 pihak Kesultanan Ottoman memberi kepercayaan kepada Kemal Reis. Paman nya mendapat sebuah kedudukan tinggi di Angkatan Laut Kesultanan.

Kehadiran Kemal Reis diketahui semakin menguatkan Angkatan laut Kesultanan Ottoman. Tidak berselang lama setelah sang paman bergabung dengan Angkatan Laut Kesultanan, Piri Reis juga ikut bergabung. Di awal-awal karirnya dia memang hanya dipercaya sebagai awak kapal di bawah pimpinan sang paman. Akan tetapi, tidak jarang pula dipercaya untuk memimpin sebuah pasukan kecil.

Kisah Perjalanan Hidup Piri Reis

Meski didapati sibuk berlayar, Piri Reis tidak lupa untuk menyempatkan diri pulang ke kampung halaman. Seperlu mengisi waktu luang, Piri Reis biasanya menulis kisah perjalanannya dalam catatan perjalanannya yang ternyata menjadi karya monumental. Pasalnya apa yang dituliskan Piri Reis tidak sekedar kisah perjalanan biasa. Namun, dengan apiknya beliau mampu menuliskan kisah perjalanan yang menjadi panduan penting bagi dunia navigasi dan sekaligus memperkaya ilmu geografi.
Banyak karya berhasil ditulis oleh Piri Reis. Sebut saja karya yang berjudul I-Bahriye, sebuah peta dunia yang berhasil ditulis pada tahun 1513. Dalam peta tersebut, beliau berhasil memetakan laut Atlantik dan sejumlah pantai di Eropa.

Tahun 1516 sampai 1517, Piri Reis mendapat perintah untuk memimpin pasukan Ottoman seperlu melawan Mesir. Piri Reis dan pasukkannya berlayar melalui sungai Nil menuju Kairo. Setelah selesai dia mengerjakan kembali tugasnya membuat karya mirip peta. Di dalam karya Piri Reis itu terdapat info penting dan ditulis secara detail seputar wilayah tersebut. Dia juga menggambarkan setiap hal yang dilihat dan ditemuinya selama perjalanan, termasuk setiap keelokan Sungai Nil.
Pasca Mesir memutuskan untuk bergabung dengan Kesultanan Ottoman, Piri Reis berkesempatan menjalin hubungan laut dengan Yavuz Selim, yakni seorang penguasa Mesir. Piri Reis pun menunjukkan peta Mesir yang dibuatannya kepada Yavuz. Hasil karya Piri Reis tersebut kemudian ditambahkan pula ke dalam I-Bahriye.

Perang Ottoman dengan Venesia

Terjadi perang besar antara pasukan Ottoman melawan pasukan Venesia pada tahun 1520. Pada waktu itu, pasukan Ottoman didapati mampu memaksa mundur pasukan Venesia. Kekaisaran Ottoman berhasil mendapat kemenangan besar. Tentu Piri Reis juga merasakan kegembiraan atas kemenangan yang didapat. Apalagi Piri Reis menjadi salah satu pemimpin pasukan. Hanya saja kegembiraan Piri Reis tidak berlangsung lama. Pasalnya kegembiraanny berubah menjadi duka saat mengetahui bahwa pamannya, Kemal Reis, gugur dalam peperangan. Dia kemudian ditunjuk dan diangkat menjadi Laksamana Kesultanan Ottoman menggantikan Kemal Reis.
Meski semakin sibuk sebagai laksamana, Dia tetap meluangkan waktu untuk menulis kisah perjalanannya. Hingga Piri Reis didapati sukses memetakan dunia baru yang berada antara Venezuela sampai Greenland bagian selatan, yakni wilayah Barat Daya Atlantik pada tahun 1528 sampai 1529. Peta terbaru yang dibuatnya tersebut semakin melengkapi karya sebelumnya dalam I-Bahriye.
Karya berjudul I-Bahriye yang dibuat Piri Reis memang memberi kontribusi begitu besar terutama bagi ilmu geografi dan navigasi. Karya tersebut tidak hanya bermanfaat bagi pelaut muslim, namun pelaut dari bangsa Barat. Sehingga diatampil sebagai laksamana yang mengharumkan nama Kesultanan Ottoman dan Islam.

Akhir Hayat dan Peta Navigasi

Piri Reis meninggal pada tahun 1554. Setelah ratusan tahun kepergiannya, tanpa sengaja sekelompok sejarahwan menemukan peta buatan Piri Reis. Peta tersebut mereka temukan saat mengelilingi istana Topkapi di Konstatinopel tahun 1929. Mereka meyakini peta tersebut miliknya karena ada tanda tangan Piri Reis yang tertanggal Muharam 919 H atau 9 Maret sampai 7 April 1513. Peta yang ditemukan tersebut kemudian disimpan di dalam Museum Topkapi, Konstantinopel.
Para peneliti pun mencoba untuk meneliti peta tersebut. Betapa terkejutnya mereka karena pada peta itu mampu menggambarkan garis besar pantai Amerika Utara dan Selatan. Bukan hanya itu saja, dalam peta tersebut ada pula peta wilayah Antartika yang selanjutnya baru ditemukan sekitar tahun 1818.

Seorang pakar peta kuno bernama Arlington T. Mallerey awalnya mendapati kebingungan saat mencoba membaca peta Piri Reis. Menurut Mallerey, data geografis pada peta Piri Reis tidak tepat. Akan tetapi, Mallerey tidak berhenti mencoba. Hingga akhirnya Mallerey mentransfer peta tersebut dengan bantuan Us Navy Hydrographic Bureau ke bentuk peta dunia. Mallerey sangat terkejut karena mendapati hasil pemindaian peta ternyata begitu akurat. Piri Reis telah membuka pintu bagi pembuat peta dunia.

Penelitian lanjutan pada peta tersebut pun akhirnya dilakukan oleh Prof. Charles H. Hapgood dan Richard W. Strachan. Kedua ahli tersebut mendapati sebuah fakta bahwa peta yang dibuatnya kemungkinan besar merupakan sebuah gambar aerial yang dibuat berdasar perkiraan ketinggian padang pasir, pegunungan, pulau, lembah, dan sungai dengan akurasi yang tak lazim.
Misalnya saja cara menggambarkan wilayah Greenland menjadi 2 pulau yang berbeda. Akan tetapi, akhirnya keganjalan tersebut terjawab saat peneliti menerima informasi bahwa sempat terjadi gempa besar yang berakibat merekahnya lapisan es dan menghasilkan ruang pemisah. Informasi tersebut didapat dari seorang ilmuwan dari Perancis yang sudah melakukan ekspedisi Kutub.
Kemampuannya dalam memetakan suatu tempat mendapat pujian dari Prof. Charles H. Hapgood. Pujian tersebut disampaikan dalam sebuah artikel di majalah Fate pada bulan Januari 1966. Dia mampu memetakan suatu tempat yang baru bisa ditemukan oleh penjelajah dari bangsa Barat. Sebut saja contohnya Antartika. Peta itu terbilang lengkap. Sebenarnya tidak sedikit ilmuwan yang mengkaji dan meneliti peta tersebut. Ilmuwan lain yang meneliti yaitu ilmuwan dari Jerman bernama P. Kahle. Pada kesimpulan akhir penelitiannya, P. Kehle menyebutkan bahwa Piri Reis merupakan kartographer handal yang membuat peta dunia pertama.

Semoga biografi di atas menambah wawasan kita, terima kasih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar